Metopen

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di rumah vina untari. Waktu pelaksanaan adalah pada tanggal 30 april 2011 pukul 09.00-16.00 WIB

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat

  1. Timbangan analitik
  2. Blender
  3. Beaker glass (gelas kimia)
  4. Suntikan
  5. Corong
  6. Saringan
  7. Botol aqua
  8. wadah

Bahan

  1. Air 250 mL
  2. Bawang putih dengan massa 5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr
  3. Sirih merah dengan massa  5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr

3. 3. Tahapan-Tahapan Penelitian

3. 3. 1. Perancangan dan Pembuatan Bahan

    

 

 

                                                

 

3. 3. 2. Pembuatan Sampel

Pembuatan sampel dilakukan dengan cara melarutkan bawang putih dan sirih merah dengan berbagai variasi konsentrasi yaitu 5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr dalam 250 ml air sehingga didapatkan larutan homogen.

3.3. 3. Teknik Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan  berbagai macam konsentrasi larutan Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Menimbang bawang putih dengan massa 5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr.
  3. Melarutkan dengan cara memblender berbagai macam konsentrasi pada air bervolume 250 mL.
  4. Menyaring hasil larutan menggunakan saringan.
  5. Memasukkan hasil larutan tersebut pada botol aqua.
  6. Mengambil 50 mL larutan menggunakan suntikan.
  7. Menyiapkan 10 ulat dengan spesies yang sama pada wadah yang telah disediakan.
  8. Menyemprotkan larutan tersebut hingga habis  dengan suntikan pada ulat.
  9. Mengamati apa yang terjadi.
  10. Menghitung jumlah ulat yang mati.
  11. Mengulangi langkah pertama hingga awal menggunakan sirih merah dengan konsentrasi yang bervariasi (5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr) dilarutkan dalam 250 ml air.

3. 3. 5. Analisa Data

Analisa dibuat setelah melalui  dengan cara, yaitu :

Pengambilan data dari pengamatan langsung yaitu menghitung jumlah ulat yang mati dengan larutan bawang putih dan sirih merah degan masing-masingkonsentrasi  (5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr) dilarutkan dalam 250 ml air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 Grafik pengaruh biopestisida antara bawang putih dibandingkan sirih merah terhadap jumlah ulat yang mati

Regresi dari insektisida bawang putih adalah y=2,7+0,3x

Koefisien relasi R = 0,993399268

Regresi dari insektisida sirih merah adalah y=1,5+0,18x

Koefisien relasi R = 0,866025404

Dalam mengolah data hasil penelitian ini digunakan software Microsoft Excell untuk mengetahui regresi linier dan koefisien relasinya. Untuk menghitung regresi liniernya digunakan rumus dalam Microsoft Excell adalah; = intercept (known_y’s, known_x’s) untuk nilai “a” dan = slope (known_y’s, known_x’s) untuk menghitung nilai “b”. Koefisien relasi dihitung dengan rumus = RSQ (known_y’s, known_x’s) lalu hasilnya di akar karena RSQ masih dalam bentuk R2.

Dari kedua data yang disajikan dalam satu grafik diatas, didapatkan antara bawang putih dan sirih merah lebih cocok menggunakan bawang putih dan  konsentrasi yang paling cocok pada bawang purih  untuk membunuh ulat adalah konsentrasi 25 gram bawang ptih dalam 250 ml air karena bawang putih ini memiliki koefisien relasi R =0,993399268. koefisien relasi 0,993399268 menunjukan adanya hubungan yang sangat erat antara besarnya konsentrasi bawang putih dengan jumlah matinya ulat.

3. 3. 6. Pengambilan Kesimpulan

Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan melihat hasil dari pengujian sistem dan pembahasan yang telah dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengujian bahan pestisida alami

4.1.1.   Hasil Pengujian menggunakan bawang putih

Konsentrasi (X)gram dalam 250 ml

Jumlah ulat yang mati

5

4

10

6

15

7

20

9

25

10

 

4.1.2.   Hasil Pengujian menggunakan sirih merah

Konsentrasi (X)gram dalam 250 ml

Jumlah ulat yang mati

5

3

10

3

15

4

20

4

25

7

4.2. Pembahasan

Penelitian ini berusaha membuktikan bahwa bawang putih dan sirih merah dapat dijadikan biopestisida. Dan kita dapat membuat sendiri biopestisida dengan cara yang sederhana tanpa merusak ekosistem disekitarnya.

Variable terikat pada percobaan kali ini adalah jumlah ulat yang mati karena biopestisida. Variable kontrolnya adalah kandungan zat pada biopestisida. variabel bebasnya adalah berbagai macam konsentrasi biopestisida  yang dilarutkan pada air 250 ml.

Alat yang sudah dibahas dalam Bab III membuat larutan biopestisida yaitu bawang putih dan sirih merah menggunakan variasi konsentrasi (5 gr, 10 gr, 15 gr, 20 gr, 25 gr) dilarutkan dalam 250 ml air. Lalu mengambil 50 ml larutan tersebut dan menyemprotkan pada ulat, sehingga diperoleh hasil yaitu perbedaan  jumlah ulat yang mati dari variasi konsentrasi tersebut. Dari hasil percobaan diatas ada perbedaan yang cukup ekstrim antara pengaruh biopestisida bawang putih dibandingkan dengan sirih merah, hal ini dikarenakan kandungan zat pada bawang putih dan sirih merah berbeda sehinggga efek yang ditimbulkan untuk mematikan  ulat juga bebeda berdasarkan referensi  kandungan dari masing-masing biopestisida tersebut adalah

  1. 1.      Bawan putih
    1. Kedudukan Taksonomi

Klasifikasi bawang putih, yaitu :

Kingdom               : Plantae
Divisio                  : Spermatophyta
Sub division         : Angiospermae
Kelas                    : Monocotyledonae
Ordo                     : Liliales
Famili                   : Liliaceae
Genus                   : Allium
Spesies                 : Allium sativum

 

  1. b.      Kandungan kimia

Bawang putih dapat mengendalikan serangga berbadan kecil dan lunak, cacing, keong, siput, ulat, aphid, kutu. Juga berfungsi menghambat perkembangan penyakit disebabkan Fusarium. Senyawa yang ada pada bawang putih adalah aliin. Ketika bawang putih dimemarkan/dihaluskan, zat aliin yang sebenarnya tidak berbau akan terurai. Dengan dorongan enzim alinase, aliin terpecah menjadi alisin, amonia, dan asam piruvat. Bau tajam alisin disebabkan karena kandungan zat belerang. Allicin merupakan kandungan kimia aktif dalam bawang putih yang menyebabkan tanaman umbi ini beraroma sangat khas. Senyawa ini juga dikenal memiliki khasiat sebagai pembunuh kuman atau antibakteri allicin membantu mengatasi infeksi dan melawan bakteri  penyebab racun dalam makanan. allicin juga dikenal rapuh dan menguap dalam waktu cepat. bawang putih yang disajikan segar cenderung lebih stabil dan terjaga kandungan allicin-nya daripada bawang yang diawetkan. Maka dari itu pembuatan biopestisida ini menggunakan bawang putih mentah, Bawang putih yang disimpan  dalam air dengan suhu ruangan tercatat lebih baik daripada bawang yang disimpan dalam minyak sayur. Kandungan kimia pembunuh bakteri juga menurun kadarnya seiring dengan berkurangnya kadar allicin. Aroma khas alisin ini bertambah menyengat ketika zat belerang (sulfur) dalam alisin diterbangkan ammonia ke udara, sebab ammonia mudah menguap. Senyawa sulfur ini dasar kerjanya sebagai antiseptic dan bakterisida yang poten sehingga ketika digunakan untuk biopestisida dalam membunuh ulat kandungan alisin ini dapat mematikan ulat, hal ini karena terjadi akibat pelepasan senyawa sulfur, dan jika senyawa sulfur ini masuk ketubuh ulat, senyawa sulfur ini akan menghentikan seluruh kerja tubuh ulat, sehingga ulat tersebut akan melemas  kekurangan tenaga dan lama-lama akan mati.

Allisin dan diallil sulfida ini juga merupakan bahan yang mudah diestrak dengan menggunakan pelarut air biasa dan bersifat racun kontak yang akan bekerja baik jika terkena atau kontak langsung terhadap sasaran yaitu pada pada bagian tubuh ulat. Ulat tersebut bisa mati karena bawang putih yang mengandung zat allisin dan dialil sulfida yang dapat bertindak sebagai bahan yang dapat menganggu sistem hormon didalam tubuh ulat. Zat allisin dan diallil sulfida bersifat sistematik yang dapat menyerap dan ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman yang disemprot. Sehingga dapat meracuni sekaligus mengganggu serangga. Setelah beberapa hari zat allisin dan dialil sulfida terurai oleh faktor alam. Sehingga tidak meracuni lingkungan. Bawang putih juga mengandung zat aktif awcin, awn, enzim alinase, germanium, sativine, sinistrine, selenium, scordinin, nicotinic acid.

Pada percobaan diatas konsentrasi bawang putih yang paling ampuh membunuh ulat  adalah 25 gr bawang putih dalam 250 ml air,hal ini dikarenanakan semakin banyak konsentrasi bawang putih semakin banyak pula kandungan alisinnya untuk mematikan ulat tersebut. dan bawang putih ini mempunyai nilai koefisien relasi 0,993399268 menunjukan adanya hubungan yang sangat erat antara besarnya konsentrasi bawang putih dengan jumlah matinya ulat.

  1. 2.      Sirih merah (Piper crocatun)
  2. Kedudukan Taksonomi

Kingdom              : Plantae
Subkingdom         : Tracheobionta
Super Divisi         : Spermatophyta
Divisi                    : Magnoliophyta
Kelas                    : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas             : Magnoliidae
Ordo                     : Piperales
Famili                   : Piperaceae (suku sirih-sirihan)
Genus                   : Piper
Spesies                 : Piper crocatum

  1. Kandungan Kimia

Sirih merah dapat digunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat digunakan sebagai fungisida dan bakterisida. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana), enzim diastase tanin, gula, amilum/pati, enzim katalase, vitamin A,B, dan C, serta kavarol. Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur. Sirih memiliki kandungan phenol dan Chavicol, dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap. Chavicol ini memberikan bau khas sirih dan memiliki daya pembunuh bakteri 5 kali dari phenol biasa.

Sirih merah juga mengandung alkaloid.  Alkaloid merupakan bahan metabolit sekunder yang paling banyak diroduksi di tanaman. Alakloid adalah bahan organik yang mengandung nitogen sebagai bagian dari sistem heterosiklik.  Senyawa alkaloid dan tanin bersifat larvasida dan insektisida. Ulat tersebut bisa mati karena sirih merah yang mengandung zat alkaloid, chavicol  dan tanin yang dapat bertindak sebagai bahan yang dapat menganggu sistem hormon didalam tubuh ulat. Zat alkaloid, chavicol dan tanin bersifat sistematik yang dapat menyerap dan ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman yang disemprot. Sehingga dapat meracuni sekaligus mengganggu serangga. Setelah beberapa hari zat alkaloid, chavicol dan tanin terurai oleh faktor alam. Sehingga tidak meracuni lingkungan.

Kandungan kimia lainnya yang terdapat dalam daun sirih merah adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavibetol, allylprokatekol, karvakrol, eugenol, p-cymene cineole, caryofelen, kadimen estragol, terpenena, dan fenilpropada. Dalam percobaan yang dilakukan berarti sirih merah bisa digunakan untuk biopestisida yaitu bisa mematikan ulat yang memiliki. koefisien relasi= 0,866025404 menunjukan adanya hubungan yang sangat erat antara besarnya konsentrasi sirih merah dengan jumlah matinya ulat. Pada percobaan diatas konsentrasi sirih merah yang paling ampuh membunuh ulat  adalah 25 gr sirih merah dalam 250 ml air, karena dalam percobaan diatas ulat dengan jumlah tujuh ekor mati dengan konsentrasi 25 gr/250 ml air. Namun jika dibandingkan dengan bawang putih, sirih merah kurang resisten dalam menbunuh ulat hal ini dikarenakan tidak ada bau yang menyengat seperti bau yang dimiliki  bawang putih yang memilki kandungan alisin, sehingga bertambah menyengatnya ketika zat belerang (sulfur) dalam alisin diterbangkan ammonia ke udara oleh karena itu dapat di lihat pertambahan konsentrasi dari biopestisida sirih merah  tidak begitu berpengaruh terhadap jumlah matinya ulat.

Jadi dari hasil percobaan ini kita dapat membuktikan hipotesis yaitu bawang putih dan sirih merah dapat dijadikan biopestisida yang ramah lingkungan dalam mematikan ulat. Dengan ini kita bisa membuat biopestisida praktis sindiri tanpa mencemari lingkungan seperti pestisida-pestisida kimiawi yang biasanya digunakan oleh para petani umumnya, namun  berdasarkan percobaan yang dilakukan untuk mematikan jumlah ulat sepuluh ekor kita cukup membuat biopestisida  dengan konsentrasi 25 gr bawang putih atau dengan 25 garam sirih merah dilarutkan dalam air  250 ml. dan jika untuk mematikan jumlah ulat tertentu kita membutuhkan konsentrasi tertentu pula, untuk menghitungnya berapa konsentrasi yang dibutuhkan untuk mematikan jumlah ulat yang diinginkan menggunakan persamaan

Untuk bawang putih Regresi dari insektisida bawang putih adalah y=2,7+0,3x

Untuk sirih merah Regresi dari insektisida sirih merah adalah y=1,5+0,18x

Dimana x adalah konsentrasi yang diingikan dan y adalah jumlah ulat yang mati

 

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang dimulai dari perancangan sampai pengujian dan analisis, dapat disimpulkan :

  1. Bawang putih dan sirih merah bdapat digunakan sebagai biopestisida yang ramah lingkungan
  2. Bawang putih lebih ampuh dalam membunuh jumlah ulat yang mati dibandingkan sirih merah, hal ini karena bawang putih memiliki bau yang menyengat seperti bau alisin dan senyawa sulfur.
  3. Semakin banyak konsentrasi semakin pula banyak jumlah ulat yang mati.

5.2. Saran

  1.  Hendaknya sampel ulat yang digunakan lebih banyak sehingga akan lebih akurat.
  2. Gunakan konsentrasi yang lebih banyak variasinya sehingga terlihat jelas perbedaanya.

Daftar pustaka

Nisfiannoor, Muhammad. 2009. Pendekatan statistika modern. Jakarta :Salemba Humanika

Rismunandar.1981. Hama tanaman pangan dan pembasmiannya. Bandung : Sinar Baru

Rukmana, Ir. Rahmat.1997. Hama tanaman dan tehnik pengendaliaan. Yogyakarta :Kanisius

Sury atmadja,Dr. Djaja. 2005. Bawang putih untuk kesehatan. Jakarta :Bumi aksara

Prof Dr Triharso.1996. Dasar-dasar Perlindungan tanaman. Yogyakrta :Gadjah mada university press

Anonim.(2011). Tanaman Bawang Putih sebagai Pestisida Alami (http://ricoidera.student.umm.ac.id/2010/06/10/tanaman-bawang-putih-sebagai-pestisida-alami/ diakses 7 mei 2011 pukul 10.15 WIB).

Alumni Pertanian UNS 90. (2010). (http://tanisukses.com/search/tanaman+bio+pestisida diakses 15 maret 2011 pukul 19.30 WIB)

Ketut juliantara. 2010. (http://www.kebonkembang.com/panduan-dan-tip-rubrik-35/395-pemanfaatan-ekstrak-daun-pepaya-carica-papaya-sebagai-pestisida-alami-yang-ramah-lingkungan.html diakses 15 maret 2011 pukul 20.00)

 

 

 

 

LAMPIRAN

Dalam lampiran ini hanya dicantumkan beberapa sampel gambar.

Gambar alat dan bahan

Gelas kimia                         Bawang putih                          Sirih merah

Saringan                             Corong                              Suntikan

Blender                                   ulat

Hasil pembuatan biopestisida bawang putih dan sirih merah

Pestisida bawang putih                                                 Pestisida sirih merah

TUGAS AKHIR SEMESTER

MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN

Potensi Bawang Putih dan Sirih Merah sebagai Biopestisida yang Ramah Lingkungan

Dosen Pengampu : Agus purwanto, M.Sc.

 

Disusun oleh :

Nama  :Vina Untari

NIM    :09312244024

Kelas   :E

 

                                                                       

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011

 

 

 

Grafik pengaruh biopestisida antara bawang putih dibandingkan sirih merah terhadap jumlah ulat yang mati

Regresi dari insektisida bawang putih adalah y=2,7+0,3x

Koefisien relasi R = 0,993399268

Regresi dari insektisida sirih merah adalah y=1,5+0,18x

Koefisien relasi R = 0,866025404

Dalam mengolah data hasil penelitian ini digunakan software Microsoft Excell untuk mengetahui regresi linier dan koefisien relasinya. Untuk menghitung regresi liniernya digunakan rumus dalam Microsoft Excell adalah; = intercept (known_y’s, known_x’s) untuk nilai “a” dan = slope (known_y’s, known_x’s) untuk menghitung nilai “b”. Koefisien relasi dihitung dengan rumus = RSQ (known_y’s, known_x’s) lalu hasilnya di akar karena RSQ masih dalam bentuk R2.

Dari kedua data yang disajikan dalam satu grafik diatas, didapatkan antara bawang putih dan sirih merah lebih cocok menggunakan bawang putih dan  konsentrasi yang paling cocok pada bawang purih  untuk membunuh ulat adalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: